Senin, 01 April 2013
purnama, 2013
Senin, 18 Februari 2013
Memang tak patut bersedih
meskipun tidak ada satupun yang sanggup menjamin
kejadian itu akan berulang
karena tidak ada satupun yang sanggup membuktikan
setahun kemarin, aku remuk.
kau berbeda
atau saat kemarin, saat kau belum menemuiku.
aku dan kamu hanyalah buaian tanpa sebab,
ketika semua berkumpul memadu, terlihat aku terbelenggu
atau mengenai mimpiku minggu lalu
atau hanyalah sebuah ketakutanku
sebuah tangis yang menyeruak
seketika semua terhentak
aku sangat paham dengan perjanjian kita waktu itu
dan aku hari ini juga sangat paham
dengan segala yang terjadi hari ini
mengenai ke-egois-anku
mungkin sebaiknya kita seperti demikian
berjalan dengan sejuta angan
tanpa tangan kita yang saling bertautan
saling menggenggam
menjadi membingungkan ketika dia melintas diperkataanmu
semakin membingungkan ketika menjadi perhatianmu
dan aku semakin meragu atas diriku dihadapmu
hingga semua terjadi dengan segala prasangka
# hingga saat inipun aku belum mampu
atau memang aku tidak pantas untuk mampu
membaca dan mengalihkan untuk aku
menatap dan menujukan untuk kamu
kita yang saling berbaur bersama repihan kenangan
janji dengan angan mengenai masa depan
apapun yang kamu pahami tentang aku
JANGAN TINGGALKAN AKU..!!!
Senin, 21 Januari 2013
Mungkin, dan selamanya mungkin akan tetap mungkin
Gundah, senang, bahagia itu hanyalah bualan lalu, yang hanya memikirkan suatu egosi hingga menjadi Raja.
Padahal ada yang lebih berbahagia dibanding apa yang aku rasakan saat ini,
ada pula yang lebih menderita dari yang pernah aku alami.
Terlambat bukan suatu kata yang tepat untuk saat ini.
Bukan pula menjadi mesin waktu yang bisa membolak-balikkan Hati.
Tapi juga suatu penyesalan, yang tanpa kau sadari akupun terlibat di dalamnya
tentang seseorang yang membuka matanya dan mengetahui bahwa ia terjaga di tengah malam,
berharap pagi segera datang karena ia baru saja melewatkan sang Siang.
aku, kamu, kita memang tidak pernah tau,
sama-sekali tidak pernah tau.
Mungkin esok hari, kemudian, aku tak mengerti
mengenai waktu yang menyatukan kita
atau mungkin pada fase berikutnya, atau menunggu hingga kita satu pada alam yang berbeda.
Mungkin, dan selamanya akan tetap mungkin
aku tak mampu menjawab--
Jumat, 01 Juni 2012
Aku bukan tanpa perasaan
Aku tidak pernah mengerti dengan apa yang direncanakan oleh Tuhan kepadaku, dan kepada orang disekitarku..
Akupun tidak mengerti, hal yang terjadi hari ini...
Ini sungguh menyiksaku, dengan cara tidak langsung, ini bukanlah sebuah balas dendam atas apa yang telah kau dan mereka lakukan kepadaku..
Secara tidak langsung ini menyiksaku juga..
kesedihanya membuat kamu ikut merasakan kesedihan pula, dan aku tak sanggup untuk melihatmu dengan wajah seperti itu..
Bukan ini,,, bukan ini caranyaaa..!!!
Minggu, 27 Mei 2012
sama seperti dia
termasuk apa yang telah kalian berikan kepadaku
Sama...
sama-sama berasal dari dua..
yang kalian sudah mengetahui bila aku
tak akan pernah mendapatkan kata dua
meskipun tiga pula tak kunjung kutemui...
Dimanakah enam yang selalu berulang??
Seolah menghilang dan berganti yang lain..
memang suatu kebetulan kita bertemu
dan bukanlah kebetulan pula kita tidak bertemu
jadi tidak akan bisa kita bertemu
bila semua direncanakan..
Sabtu, 19 Mei 2012
Berulang lagi malam ini
Seharusnya sudah tidak ada lagi persasaan cemburu yang aku pendam.
Seharusnya aku sudah tidak memikirkannya lagi.
Seharusnya aku sudah membuang semua cerita yang telah kita alami.
Seharusnya, ----
dan kini seharusnya aku bisa..!!!
Saya benar-benar tidak mengira akan menjadi seperti ini...!!
Sekali lagi orang yang aku anggap sebagai teman justru memperparah kondisiku,
sepertinya dia sengaja membiarkanku untuk tak mampu berdiri, pulih dalam luka ini.
Seolah seperti menyayat sebuah luka yang masih meradang.
Sungguh aku tidak mengerti dan menganggap ini hanyalah sebuah lelucon,
kalian berhasil tertawa kawan, KALIAN BERHASIL MENERTAWAKAN AKU..!!
Kalau tertawa itu yang menjadikan kalian terhibur, kalian juga akan merasakan bagaimana rasanya tertawa dalam kepedihan.
Aku menyadari semua ini memang terasa lucu, terbalut dengan senyuman akan dirimu yang menyiksaku.
Apakah bukan sebuah lelucon apabila suat kebodohan yang kini sedang aku lakukan berulang-ulang.
Suatu kebodohan yang terus saja aku lakukan, yang aku pertontonkan,
dan aku sungguh menikmati dalam kepedihannya.
Tiba-tiba terputarlah dari pemutar musik,
sebuah lagu legenda
Nat King Cole,
-When I Fall in Love-
Larutlah semua rasa ini dalam keheningan malam.
Mencoba menenangkan hati yang bergejolak,
hingga terucap sebuah lirik yang sangat menggertak,
When I give my heart, it will be completely
Aku sangat menyadari bahwa hidup ini belumlah lengkap, terlebih sempurna.
Karena sama sekali aku tidak mengerti,
kepada siapa aku memberikan hati ini?
Seperti sebuah kebodohan yang aku lakukan berulang-ulang,
berulang-ulang pula aku tak jemu memutar lagu ini,
dengan sebuah harapan tentramlah hati ini,
paling tidak sebelum hari berganti.
Namun aku tak menyadari,
sebua kalimat lirik yang membuat aku terkejut,
Love is ended before it's begun
Seketika aku remuk kembali ...
Jumat, 18 Mei 2012
Ketika kudengar semua darimu
Aku tahu semua tentang hal itu, aku tahu semuanya dari awal, dan aku telah mempersiapkannya matang-matang. Mempersiapkan diri kehilangan dirimu. Namun, aku gagal untuk kesekian kalinya, ketika semua itu terjalin begitu indah, tanpaku. Aku remuk.
Tidak ada yang salah dengan semua ini, terlebih juga pada sikapmu padaku. Meskipun ada kesalahan, sungguh aku tidak pernah menganggap itu sebuah kesalahan karena kau telah memberi ku cara merasakan dan menghargai cinta.
Aku tahu engkau sudah muak akan sikapku padamu selama ini. Hanya kata maaf yang teramat sangat mendalam yang bisa aku ungkapkan, maaf karena aku salah mengartikan sikap indahmu, maaf karena aku terlalu banyak berharap kau mau kepadaku, maaf karena aku terlalu memaksa dan menunggu sesuatu yang aku pun menyadari itu bukanlah hak yang semestinya aku dapatkan.
Sungguh aku tidak akan pernah menyesali semua ini, semua kecewa, semua rasa indah, semua rasa remuk redam. Biarlah kini kau jalani hari-hari yang lebih indah bersamanya, dan ijinkan aku menghapus semua kenangan indah bersamamu. Karena akan menjadi sangat menyakitkan bila kenangan indah itu terus menerus membayangi diriku, sementara aku tak mampu lagi menikmati indahnya bersama denganmu.
Mungkin duri kepedihan yang menancap ini, semua yang terjadi diantara aku dan engkau, juga dia. Membuat kita menjadi dewasa.
Biarlah aku kini belajar bagaimana menikmati malam, tanpa ada dirimu yang menemani, menikmati pagi tanpa sambutan hangatmu, melewati hari-hari sulit tanpa kau yang menopang hidup. Hingga tidak ada lagi kesempatan aku jalan berdua denganmu, menghabiskan waktu seharian dengan penuh kebahagiaaan tanpa ada status apapun yang mengikat kita berdua.
Hingga akhirnya aku meminta ijin untuk melupakan dirimu dari hidupku. Semoga aku mampu. +_+
Kamis, 17 Mei 2012
my future
| Pantai Utara Jakarta (Ancol) |
Rabu, 16 Mei 2012
Bulan berat
Satu persatu tugas yang terbengkalai membengkak menjadi raksasa yang sulit ditaklukkan. Ditambah lagi situasi yang semakin tidak berpihak kepadaku, terus-menerus membuat aku sulit mengalahkannya. Walaupun aku tahu aku akan menyelesaikannya, namun sepertinya banyak hal yang terkorbankan. Hasil yang tidak maksimal membuat pekerjaan memiliki nilai kualitas yang tidak maksimal, ditambah konsentrasi yang terpecah belah bagaimana dan pekerjaan yang mana dulu yang mesti dikerjakan.
Sekarang satu persatu menagih hak-nya kepada aku. Baik, aku penuhi hak kalian, tapi satu persatu.
Beberapa hari ini harus aku upayakan untuk melunasi segala hutang-hutangku. Ini sudah menjadi konsekuensi dengan apa yang aku putuskan dahulu.
Bismillah..
:w &:¤ = :`((
Sebenarnya sungguh aku tidak menyangka, aku tidak ingin terlibat terlalu dalam seperti ini. Sungguh..
Mungkin kalau dia sudah kasih sinyal negatif, pasti aku tidak akan terlalu jauh dalam hubungan ini, tapi dia sungguh membingungkan.
Sama sekali aku tidak menyalakan siapapun yang terlibat dalam hubungan hingga sejauh ini.
Masya Allah, saat ini aku masih belum bisa lupa akan waktu itu, memang diantara kita sama sekali anpa hubungan, inilah yang menjadi asal muasal.
Aku mengira, dan sangat yakin perasaan ini tidaklah bertepuk sebelah tangan lagi untuk kesekian kalinya, hingga cerita demi cerita itupun tertulis. Kado terindah yang kamu berikan, jelas itu terlalu istimewa untuk diberikan hanyalah kepada seorang "teman", maka tak salah kalau aku akhirnya yakin perasaan ini tidak bertepuk sebelah tangan.
Suatu ketika aku beranikan ungkapkan perasaan ini, dengan keyakinan yang teramat, dan harapan yang menggelora, Bismillah. Dan untuk kesekian kalinya, nihil.
Kau memintaku untuk tidak berubah, kau pula tidak berubah dalam sikap yang kau tunjukkan kepdaku, dan mungkin semakin dalam aku salah megira untuk kedua kalinya. Kau dan aku malah jauh lebih dekat menjalani hari-hari. Akupun mengira ada secercah harapan, hingga rela diri ini menanti dan terlena sekian lama. Inilah yang membuat aku terjatuh terlalu dalam saat ini. Sempat kucoba menjauh dari dirimu, hasilnya, engkau mendekat seolah tak ingin jauh dari aku, sekali lagi ternyata aku salah mengartikan sikap indah ini. Sungguh aku ingin mengakhiri hubungan tanpa status ini.
Beberapa saat yang lalu, aku sengaja menyulut api, aku tahu engkau sudah memiliki kekasih yang kau inginkan, untuk itu aku ingin segera menyudahi sikapku dan sikapmu yang terjalin selama ini. Tapi waktu yang terjadi akhir-akhir ini terasa begitu cepat, kau sudah nyaman berdua dengan lelaki lain. Syukurlah kalau begitu, meskipun dala hati aku tak rela karena lelaki yang kau pilih tidak lebih baik dari diriku. Dalam hati, biarlah kau merasakan apa yang sudah menjadi pilihanmu, aku menduga kau akan merasakan patah hati yang aku alami sekarang oleh dia. Biarlah kau merasakan nanti, agar kamu cukup untuk tidak memberi harapan-harapan kepada orang lain. Tapi entah mengapa aku masih belum rela dan sakit ketika melihat kalian berdua bermesra.
Aku bukan orang yang sejahat itu, karena aku sayang kepadamu, aku sungguh tidak tega melihat kau menderita nantinya. Ya Allah semoga apa yang aku takutka tidak terjadi, semoga dia tidak merasakan sakit yang aku rasakan sekarang ini. Berilah kebahagian padanya Ya Allah.
![]() |
#untuk dirimu yang bahagia disana, aku tahu kalau kamu tidak memilih aku, akupun tau kalau aku sangat salah mengartikan sikapmu kepadaku, akupun tahu kalau aku sangat sakit kehilangan dirimu, aku pun tahu ini terbaik untuk kita.
:w & :¤ = :`((
Selasa, 15 Mei 2012
Bayang Bayang itu..
melihat sebuah file dengan nama bbi, coba aku buka, ternyata cukup mencerminkan kondisi saat ini...
tertanggal 1 Mei 2011, cukup lama, dan ternyaa nasib saya tak jauh berubah..
Senin, 30 Mei 2011
Semestinya Begini Begitu
Rabu, 29 September 2010
Pulang kampung
Senin, 08 Februari 2010
itu kamu...
Aku saat ini seperti orang yang kebingungan. Lebih tepatnya aku benar-benar bingung dengan keadaanku. Inginku menembus, menembus segala hal yang menghalangiku. Menghadapi segala yang semakin take kumengerti.
mungkin seseoang yang sedang membaca ini akan sedikit kebingungan, tapi inilah hidup yang memang sungguh membingungkan. karena wanita benar-benar membingungkan.
di sini, di kesendirianku, aku terus mencoba menyibak arti dari perasaan it. meyakinkan apakah rasa iu benar-benar ada ataukah hanya seutas kebohongan. yang selama ini mereka umbar dan pertontonkan, dan aku terjebak karenanya.
satu hal yang meresahkan. mengapa cinta datang dan mendatangi seroang yang tidak tepat. semua terjadi begitu spontan dan mengejutkan. hingga aku terkapar, terus dan terus memikirkannya yang sesungguhnya tak pernah aku harap kehadirannya. dimanakah bidadari itu?
malaikat tak selalu bersayap, bidadari tak selalu rupawan, bahkan kehidupan penuh dengan kejutan.
Ya, itu kamu,,,
kamu yang aku nanti selama ini, tak usah memalingkan wajah cantik itu, tetaplah menatapku, tetaplah hingga kau rasakan hentakan jantung ini masukaliran jiwamu, sejenak, perlahan menguasai nafas yang engkau hebus, pikiranmu, jangan tutup mata indah itu, teruslah menatapku,, terus,, dan terus,,
lihatlah kenyataan bahwa aku telah masuk dalam darahmu, aku adalah kamu, aku, kamu,
Bangun...jangan kau tertidur,,,,
kau harus sadari betapa aku sekarang merasakan nafasmu, tanganmu, dan dirimu...
aku mengerti engkau kini bingung, engkau kini memppertangakan apa yang sedang aku lakukan saat ini, hal bodoh apa lagi yang telah kuperbuat, tapi lihatlah dengan hatimu, AKU MELIHATMU.. AKU merasakan apa yang kau rasakan saat ini,, JANGAN PERNAH TUTUP MATAMU, karena aku akan selalu hadir di dalam mimpimu...
Rabu, 16 Desember 2009
kita, mahasiswa yang menafikkan cita-cita luhur pendahulu kita, yang meminum darah darah pendahulu yang tumpah memerjuagkan bangsa.
Jelas ini adalah negri impian.
Yang hanya sanggup bermimpi tanpa ada perubahan.
Jelas kita mengininkan negri yang tidak bersih.
Jika para pemudanya masih terkontaminasi.
Apakah kalian tidak malu dengan apa yang kita perbuat ?
Kita, mahasiswa yang menafikkan cita-cita mulia pendahulu kita.
Kita, telah menjilat ludah yang telah busuk di tong sampah,
Kita, yang menyusu dalam kancut-kancut penggila kekuasaan.
Tahu apa kalian tentang politik, tentang kebusukan dan sarang orang-orang munafik.
Kalau tak tahu tutup saja mulutmu itu.
Dengan gampangnya kalian dijadikan babu orang-orang goblok,
Tak ubahnya kalian sendiri yang goblok !
Sekarang kalian pikir, apa bangsa yang bersih butuh pemerintahan yang bersih,
Sudah jelas bahwa pemeritahan bersih butuh pemulihan yang bersih pula.
Berani-beraninya kalian terang-terangan mengotorinya ?
Coba kalian pakai otak-otak udang kalian, aku atau kah kalian yang telah terhasut.
Kalian hanyalah bangsat-bangsat yang memedulikan kepentingan sendiri.
Buka mata kalian !
Dunia ini tidak hanya ada kau, kau dan dia.
Lihat, jelas bereka berbuat salah, mengapa kalian menirunya saudaraku ?
Jumat, 04 Desember 2009
Engkau Tak Akan Pernah Terganti
"Bismillahi rahmani rahim, wa tin wa zaitun, wa thuri sinin, wa hadzal baladil amin, laqad khalaqnal insana fii ahsani taqwim" Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan demi kota (Mekah) ini yang aman, sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, begitu pula ibuku yang sungguh luar biasa.
Tahukah kalian betapa resah seseorang yang tinggal di daerah lereng gunung, mendengar bahwa daerah tempat tinggalnya akan terjadi bencana. Ratusan orang berbondong-bondong menuju pengungsian yang letaknya cukup jauh dari pemukiman mereka, terlihat disana para ibu yang menggendong anaknya dan para lansia diangkut dengan bak truk yang tak sepantasnya mereka naiki, menuju ke pengungsian, sementara para pria berjalan kaki dan sisanya tetap tinggal dan memantau kondisi. Demikian yang terjadi Sembilan belas tahun lalu di pemukimanku di kecamatan Nglegok, Blitar.
Aku yang saat itu masih belum tahu apapun tentang dunia, bahkan melihatnya pun aku tak mampu, namun aku dapat merasakan keresahan dan kecemasan seseorang yang hingga kini masih memelukku dan tak melepaskannya, aku yakin, aku akan aman di dalam rahimnya, dialah ibuku.
***
“Sudahlah, tak apa-apa, nanti setiap sabtu minggu aku akan pulang, kita masih bisa berkumpul walau hanya sabtu minggu. Aku sudah mantap dengan niat baik ini, tidak baik jika niat baik tidak dilaksanakan, bukankah bapak juga ingin punya lahan sendiri untuk ditanami, lumayankan hasilku merantau bisa sedikit membantu mewujudkan keinginan bapak ?”
Ah ibu, apa yang dia pikirkan, aku tak mengerti semuanya, atau memang aku yang belum saatnya mengeti hal itu. Aku seolah menjadi orang yang terasing dalam kesendirianku sendiri, aku terpaku dalam suasana itu, ketika ibu berkemas hendak meninggalkan kami bertiga. Esok pagi-pagi sekali aku telah kehilangannya, cemas yang merangkul dan menikamku terus menerus, seolah esok dia akan pergi untuk ribuan tahun bahkan esok adalah pagi terakhir dimana aku masih dapat memanggil dia “ibu”.
Langit sore ini begitu tak cerah, dengan warnanya yang merah dan beberapa awan bertebaran. Sore itu serasa pagi hari, namun bukan hawa sejuk yang kurasa, melainkan kering panas seperti siang hari. Aku keluar rumah dan mencoba menorehkan suasana sore itu dalam buku gambarku, ini adalah sore pertama ibu meninggalkan rumah. Aku tak peduli dengan kesibukan ayah mengurusi adik, satu per satu goresan awan yang tertutupi rimbunan atap rumah perkampungan, aku torehkan dengan krayon warna-warni yang ibu belikan beberapa hari lalu. Aku kecil begitu lihai melukis suasana sore itu, hal yang bahkan tidak bisa dilakukan anak yang seumur denganku. Seni adalah gnonsis sanguinis. Ya, ilmu yang dapat ditularkan melalui darah, bisa dikatakan keluarga telah mewariskan darah seni ke dalam tubuhku ini, ke dalam tangan-tanganku dan jiwaku. Ibu, andai kau ada disini, akan kutunjukan betapa hebat anakmu ini, betapa hebat dirimu mempunyai aku, dan betapa hebat aku memilikimu.
Sepertinya baru kemarin ibu marah kepadaku, ketika aku belum pulang walau malam telah larut, ayah yang kesana-kemari mengelilingi seluruh kampung mencariku, sementara ibu yang mondar-mandir di depan rumah dengan cemas. Tak lama kemudian ayah menemukan diriku yang sedang asyik bermain di rumah teman padahal jam sudah menunjukan pukul sembilan malam, tanpa basa-basi aku segera diseret pulang ke rumah, tidak hanya itu, sesampainya di rumah giliran ibu yang menyambutku dengan omelan yang mendera diriku hingga malam itu aku hampir tak bisa tidur.
“Kriii...iing...Kriiii..ing.....”, telepon rumahku berbunyi, aku harap itu adalah telepon dari ibu, sudah dua minggu beliau belum pulang, kabarpun tak menyambang ke sini, aku merasa hati ini tak enak, tapi bagaimanapun aku harus tetap berbaik sangka, siapa tahu kali ini ibu menelponku dan mencurahkan segala kerinduan kepada anaknya ini walaupun tiap akhir pekan beliau pulang, tapi rasanya tak cukup bagi ku terobati rindu ini.
“Halo, Assalamualaikum, benar ini rumah ibu Sri Anik? “ suaranya aneh, aku belum penah mengenalnya, begitu asing bagiku, jelas ini bukan suara ibuku. Aku mendengar sebuah kegelisahan pada suara penelpon, sepertinya ada sesuatu hal penting yang ingin disampaikannya tapi dia enggan mengatakannya secara gamblang dan terus terang.
“Benar, ini siapa yah..” jawabku.
“Ini putrinya bu Sri Anik ya, saya temannya ibu kamu dik. Ohya bapak kamu mana, ada hal yang mau disampaikan kepada bapak kamu, tolong panggilkan yah ?”
Mengapa mesti ayah, mengapa wanita ini tidak langsung menyampaikannya padaku, toh aku juga anaknya, dan dia juga ibuku sendiri, apa mungkin ada yang disembunyikan dari wanita ini kepadaku, sepertinya ada hal yang sangat penting tentang ibu yang hanya ayah saja yang boleh mengetahuinya. Aku cemas, pikiranku tak karuan, aku menaruh gagang telepon seraya memanggil ayah. Ayah terlihat begitu tergopoh-gopoh dan setengah berlari lantas menyambar gagang telepon. Aku lihat sebuah pembicaraan yang sangat serius saat itu, raut muka ayah begitu berbeda beberapa saat kemudian, ta seperti tadi sore yang masih riang bersemangat. Ada apakah ini, apa yang terjadi ?
Seketika ayah menaruh gagang telepon dengan perasaan berbeda dengan waktu ayah menyambarnya tadi, aku langsung bertanya apa yang mereka bicarakan tadi, ada apa dengan ibu, apa yang terjadi, apakah ibu baik-baik saja, kapan ibu pulang ? Namun ayah hanya berkata, “Semua baik-baik saja, besok ibumu pulang, tapi ayah diminta menyusul ke sampang, mungkin dia bawa oleh-oleh banyak.”
Oleh-oleh? Sudahlah, aku melihat ada yang kau sembunyikan dariku, jangan kau tutupi dengan lelucon ini, jangan memberi aku harapan hari ini dan memberiku kenyataan pahit esok hari. Aku menjadi lebih tak mengerti.
Esok hari, pagi-pagi benar sebelum shubuh, bahkan ayam di kandang belum terjaga apalagi adikku, ayah membangunkan aku. Ayah berpamitan hendak menjemput ibu ke Sampang, nanti sore akan tiba di rumah, dia juga menyiapkan sarapan untuk kami berdua dan menitipkan urusan rumah untuk beberapa jam nanti.
***
Adzan Maghrib sudah berkumandang namun ayah dan ibuku belum juga datang, aku bingung bila mereka tak juga datang sampai malam ini. Aku mulai cemas.
Dua jam kemudian, kulihat sebuah becak dengan dua penumpang berhenti persis di depan rumahku, kemudian salah satu penumpangnya turun membuka pagar, kemudian mereka berdua masuk ke dalam rumah, namun penumpang satunya berjalan dituntun seperti tidak bisa berjalan sendiri, mereka adalah ayah dan ibuku.
Ibu terpaksa pulang karena ada saraf tulang belakangnya terjepit akibat terjatuh beberapa hari yang lalu.
“Ibu tidak apa-apa kok, hanya terjatuh, lagipula sidah dipijatkan di tukang urut, beberapa hari lagi insya Allah sudah sembuh, jangan sedih yah ?” Kata-kata yang terlontar dari bibir lembutnya hanya bisa membuatku menangis.
Selama enam bulan ibu tergolek lemah di kamarnya, sakit yang diderita enam bulan lalu masih menyisakan pilu, menunjukan betapa perjuangan sosok seorang ibu membantu perekonomian keluarga, dan ini aku sedikit lega, ibu kembali pulih sakitnya.
Aku senang sekali akan hal ini, pikiran buruk tentang apa yang akan terjadi pada ibu tenyata tidak terjadi, aku tak ingin ini terjadi lagi, aku ingin ibu tak hal seperti ini menimpa seorang yang aku sayangi selama ini, seseorang yang amat perkasa yang menggendongku selama sembilan bulan dalam rahim tanpa mengeluh sekalipun.
Namun kebahagiaan ini hanya sementara, sempat aku berfikir aku dan keluargaku berhasil melewati cobaan yang diberikan oleh Allah ini. Cobaan itu belum berakhir, setelah sembuh dari sakitnya ibu berniat kembali mengajar di Sampang seperti dulu. Ayah sudah menjual rumah yang kami tinggali kini dan membali sepetak lahan untuk kebun, sementara kami tinggal mengontrak rumah hingga kini. Ayah berharap dengan usahanya berkebun di lahannya sendiri akan lebih mampu menghidupi keluarga dengan layak dan lebih baik dari yang lalu, namun ibu tetap berniat untuk meninggalkan kami lagi. Beberapa bulan setelah ibu kembali ke Sampang untuk mengajar, ibu jatuh sakit, badannya meriang, panas dan merasa kelelahan berkepanjangan, di sekujur tubuhnya timbul bercak merah, persendiannya terasa sakit dan kerap bengkak. Ibu kembali pulang ke rumah.
Dokter di puskesmas tak mampu menangani sakit yang diderita ibu ini sementara aku hanya bisa cemas. Ayah kemudian memutusakan untuk merujuk ke rumah sakit di Surabaya. Kata dokter ibuku terkena penyakit lupus, penyakit kelainan autoimunitas yaitu antibodi yang berlebihan yang malah menyerang dan merusak jaringan sel tubuh sendiri. Hasilnya, proses peradangan akan berkepanjangan dan akan merusak organ tubuh dan mengganggu fungsinya. Selanjutnya, hal ini akan terlihat sebagai gejala penyakit. Kalau hal ini terjadi, maka dalam jangka panjang fungsi organ tubuh akan terganggu. Dan yang paling membuatku tercengan kaget adalah penyakit ini belum ada obat untuk menyembuhkannya dan penyakit ini sangat langkah. Oh ibu, andai aku bisa, aku rela dan ingin sekali menggantikan posisimu saat ini, aku tak mampu bila harus menangis setiap hari sepanjang umurku melihat engkau tersiksa seperti ini, biarlah aku yang menanggungnya, engkau sudah banyak berkorban demi dariku, ijinkan aku membalas semua apa yang engkau lakukan demi aku. Andai aku bisa.
***
Beberapa bulan kemudian kehidupan berjalan seperti biasa, namun aku sekarang yang malah meninggalkan beliau, kini aku berada di Surabaya untuk menuntut ilmu, aku mampu berkuliah di Universitas Airlangga melalui jalur pmdk prestasi, bahkan aku kini mendapat beasiswa fullscholarship dari kampusku selama empat tahun penuh. Aku ingin memenuhi keinginan beliau melihat aku diwisuda sebagai seorang sarjana dan aku tak ingin memberatkan beliau dalam mengenai kebutuhan kuliah dan hidup selama di Surabaya kini karena aku tahu, tak kecil dana yang dikeluarkan setiap bulan untuk biaya beliau kontrol rutin di Surabaya. Aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, aku harus membuat ibuku tesenyum selalu.
Ayah masih tetap bekerja di kebunnya sendiri untuk menghidupi keluarga dan membayar konrakan rumah, ayah juga yang mengurus semua masalah rumah sementara ibu kini tetap mengajar walau tidak di luar kota. Adikku telah banyak berubah, tidak lagi nakal seperti dulu, kini dia penurut pada orang tua, ucapannya pun kini santun. Dan aku, gadis kecil yang merantau meninggalkan mereka semua demi menuntut ilmu, demi mengejar impian besarku, demi membawa nama keluargaku, dan demi membahagiakan ibu seperti janjiku.
“Tidak ada kata yang ingin saya ucapkan kepada ibu yang melahirkan saya selain ucapan terima kasih. Atas semua jasa, perhatian, dan kasih sayang yang telah engkau berikan bahkan saat saya masih dalam kandungan, sampai saya dewasa. Rasanya apa yang selama ini saya lakkan tidak ada apa-apa dibandingkan yang telah ibu berikan kepada saya. Kini ibu menderita sakit yang mungkin akan membutuhkan obat seumur hidup dan dengan segala keterbatasannya, saya hanya bisa membantu dan mendoakan agar beliau sembuh, tidak merasa sakit setiap harinya. Saya ingin ibu saya selalu tersenyum bahagia dan saya pasti bisa mewujudkannya.”
Kisah ini saya tulis untuk sahabat saya yang begitu luar biasa, anika shindya dewi, yang kini ibunya terkena penyakit lupus dan bertarung mempertahankan hidup. Saya berjanji jika saya berhasil memenangan lomba ini, maka hadiah akan saya berikan kepada Ibu Sri Anik sebagai rasa terima kasih telah mengizinkan saya menuliskan kisah hidupnya dan penghormatan saya mendapatkan pelajaran tentang kasih saying seorang ibu, mungkin saya belum pandai menulis, tapi tulisan ini akan saya jadikan hadiah hari ibu kepada ibu saya.
Senin, 07 September 2009
Welcome to My University
Hampir sebulan di sini aku merasa belum terbiasa dengan keadaan, rasanya masih terkenang yang lalu, masa putih abu-abu yang sudah lama aku tanggalkan. Tidak hanya itu, perpaduan yang terjadi di setiap individu-individu yang tercipta begitu kompleks, sehingga perlu waktu pula untuk membiasakan diri (beradaptasi) dengan lingkungan, budaya, dan peraturan yang mesti aku emban. Bisa dikatakan sebagai ungkapan rasa rindu, dimana waktu-waktu yang telah lalu, menjadi tulisan-tulisan yang sekarang hanya tersimpan, dan aku harap itu bukan hanya sekadar album lusuh yang tak pernah terbuka, justru aku akan sering membukanya, justru ia lusuh karena aku sering membukanya, karena sering aku tatap kisah-kisah nan agung persahabatan kita, kawan.Otak ini seperti sebuah granat yang siap meledak, tapi aku sendiri tak tahu untuk siapa geranat ini diledakkan. Inilah yang sering kita sebut sebagai kuasa dan wewenang. Sebuah kekuatan yang amat besar namun terkurung dalam wewenang yang sempit sehingga tak mampu ia berbuat banyak. Sebaliknya, pada sebagian manusia ia bahkan tak punya kekuatan dan keahlian apa-apa, namun ia punya kuasa yang ia sendiri bahkan tak mampu jua mengendalikannya. Apa bedanya dengan sebuah kekangan ?
Suasana ini memang sangat berbeda, menjadi sebuah sistem dimana aku dan mereka lainnya harus melalui sistem tersebut dengan target-target yang mereka buat. Apa mereka tidak tahu bila sesuatu yang dipaksakan secara mendadak akan menimbulkan efek psikologis dan bahkan syok pada organ-organ tertentu, biarlah mereka menjalani sistem secara perlahan sambil beradaptasi. Apa kalian pikir pula mereka tidak mempunyai tanggumng jawab lainya pula ? Jangan samakan hal ini dengan kalian ! Jelas berbeda.
Namun daripada itu, aku berontak atas kaumku yang tak menghiraukan saudaranya sendiri, ia bahkan tak menganggap kami sebagai sesuatu yang akan membawanya ke sebuah tingkat yang lebih baik. Sama sekali bertentangan dengan haluanku, ini benar-benar tidak bisa didiamkan !
Aku juga masih bimbang akan hal yang lalu, yang waktu itu pernah kuceritakan padamu. Aku masih mngingatnya dan berjanji kepadanya sampai saat ini. Dan aku tak tahu apa yang terjadi esok hari. Seperti seekor kucing yang malu, ia seraya kembali padaku dalam ketidakpastian. Gerakmu sudah tercium, ternyata kau tak bisa jauh dariku. Kau kira aku masih menunggu dirimu ? Tanya pada kenyataan.
Senin, 06 Juli 2009
Love My Self
Kadang kala orang lain lain lebih peduli, lebih perhatian dan khawatir pada diri kita ketimbang diri kita sendiri. Apakah ini berartu kita selama ini tak mengenali diri kita sendiri, kita tak mau menyempatkan waktu untuk diri kita sendiri, untuk mencintai diri ini. Bagaimana kalian bias berkata dan mengungka[kan bahwa kalian begitu mencintai orang lain, sedangkan kalian tidak mencintai dan memedulikan diri kalian sendiri.
Senin, 01 Juni 2009
Cinta Itu Realita
seorang pergi dan mendapatkan
menjadi hal yang pantas
untuk dimengerti, untuk diterima
Atau tentang sepucuk masa lalu
yang cintanya mekar kembali
layakkah disebut cinta sejati
entah hanya sebuah pelampiasan
untuk kesenangan ala kadarnya
Kini semua terlihat misterius
di tangah para wanita yang mencoba
menjunjung sebuah moral kesucian
yang justru telah mereka umbar tak semestinya
atau para pria yang sama saja
merajakan bualan dan rayuan
yang tercipta dari mulut busuknya
yang tak puas akan nafsu bejat
tak peduli siapa tersakiti
Cinta itu benar-benar sudah punah
sudah tiada di hati para pecinta
tak ada lagi tutur kata jujur
di tengah kemerosotan moral penerus bangsa
dan berharap akan sebuah harapan
satu hal bersama yang harus kita lakukan
menjaga kemuliaan cinta dengan etika


