Powered By Blogger

Rabu, 16 Mei 2012

Bulan berat

Entah apa yang terkandung dalam Kata "Mei", seolah menjadi bulan yang sangat berat untuk dijalani. Jika terdahulu adalah bulan Desember-akhir bulan dalam satu tahun-juga bulan terakhir dalam satu semester, menjadi puncak serangan tanpa henti tugas-tugas yang diberikan.

Satu persatu tugas yang terbengkalai membengkak menjadi raksasa yang sulit ditaklukkan. Ditambah lagi situasi yang semakin tidak berpihak kepadaku, terus-menerus membuat aku sulit mengalahkannya. Walaupun aku tahu aku akan menyelesaikannya, namun sepertinya banyak hal yang terkorbankan. Hasil yang tidak maksimal membuat pekerjaan memiliki nilai kualitas yang tidak maksimal, ditambah konsentrasi yang terpecah belah bagaimana dan pekerjaan yang mana dulu yang mesti dikerjakan.

Sekarang satu persatu menagih hak-nya kepada aku. Baik, aku penuhi hak kalian, tapi satu persatu.
Beberapa hari ini harus aku upayakan untuk melunasi segala hutang-hutangku. Ini sudah menjadi konsekuensi dengan apa yang aku putuskan dahulu.
Bismillah..

:w &:¤ = :`((

Kawan, ternyata akhirnya aku merasakan juga patah hati. Sumpah, sakit. Mungkin beberapa kali yang lalu aku pernah dilanda masalah yang teramat rumit, tapi itu sudah biasa, aku sudah beberapa kali melewatinya dan mungkin hanya sampai di otak, sakitnya. Tapi ini beda kawan, tidak lagi kepala yang dipusingkan dengan berbagai masalah, ancaman, dan yang lain. Ini sudah bermain dengan hati, dan rasanya lebih sakit.

Sebenarnya sungguh aku tidak menyangka, aku tidak ingin terlibat terlalu dalam seperti ini. Sungguh..
Mungkin kalau dia sudah kasih sinyal negatif, pasti aku tidak akan terlalu jauh dalam hubungan ini, tapi dia sungguh membingungkan.

Sama sekali aku tidak menyalakan siapapun yang terlibat dalam hubungan hingga sejauh ini.
Masya Allah, saat ini aku masih belum bisa lupa akan waktu itu, memang diantara kita sama sekali anpa hubungan, inilah yang menjadi asal muasal.

Aku mengira, dan sangat yakin perasaan ini tidaklah bertepuk sebelah tangan lagi untuk kesekian kalinya, hingga cerita demi cerita itupun tertulis. Kado terindah yang kamu berikan, jelas itu terlalu istimewa untuk diberikan hanyalah kepada seorang "teman", maka tak salah kalau aku akhirnya yakin perasaan ini tidak bertepuk sebelah tangan.

Suatu ketika aku beranikan ungkapkan perasaan ini, dengan keyakinan yang teramat, dan harapan yang menggelora, Bismillah. Dan untuk kesekian kalinya, nihil.

Kau memintaku untuk tidak berubah, kau pula tidak berubah dalam sikap yang kau tunjukkan kepdaku, dan mungkin semakin dalam aku salah megira untuk kedua kalinya. Kau dan aku malah jauh lebih dekat menjalani hari-hari. Akupun mengira ada secercah harapan, hingga rela diri ini menanti dan terlena sekian lama. Inilah yang membuat aku terjatuh terlalu dalam saat ini. Sempat kucoba menjauh dari dirimu, hasilnya, engkau mendekat seolah tak ingin jauh dari aku, sekali lagi ternyata aku salah mengartikan sikap indah ini. Sungguh aku ingin mengakhiri hubungan tanpa status ini.

Beberapa saat yang lalu, aku sengaja menyulut api, aku tahu engkau sudah memiliki kekasih yang kau inginkan, untuk itu aku ingin segera menyudahi sikapku dan sikapmu yang terjalin selama ini. Tapi waktu yang terjadi akhir-akhir ini terasa begitu cepat, kau sudah nyaman berdua dengan lelaki lain. Syukurlah kalau begitu, meskipun dala hati aku tak rela karena lelaki yang kau pilih tidak lebih baik dari diriku. Dalam hati, biarlah kau merasakan apa yang sudah menjadi pilihanmu, aku menduga kau akan merasakan patah hati yang aku alami sekarang oleh dia. Biarlah kau merasakan nanti, agar kamu cukup untuk tidak memberi harapan-harapan kepada orang lain. Tapi entah mengapa aku masih belum rela dan sakit ketika melihat kalian berdua bermesra.

Aku bukan orang yang sejahat itu, karena aku sayang kepadamu, aku sungguh tidak tega melihat kau menderita nantinya. Ya Allah semoga apa yang aku takutka tidak terjadi, semoga dia tidak merasakan sakit yang aku rasakan sekarang ini. Berilah kebahagian padanya Ya Allah.


#untuk dirimu yang bahagia disana, aku tahu kalau kamu tidak memilih aku, akupun tau kalau aku sangat salah mengartikan sikapmu kepadaku, akupun tahu kalau aku sangat sakit kehilangan dirimu, aku pun tahu ini terbaik untuk kita.
Ya Allah berilah kerelaan dan kelapangan hati ini menghadapi ini.  Berikan aku kekuatan untuk bangkit, berikan dia kebahagiaan yang memang dia pantas untuk memilikinya.

:w & :¤ = :`((

Selasa, 15 Mei 2012

Bayang Bayang itu..

beberapa hari lalu, saya bongkar-bongkar file yang tersimpan dalam leptop butut ini..
melihat sebuah file dengan nama bbi, coba aku  buka, ternyata cukup mencerminkan kondisi saat ini...
tertanggal 1 Mei 2011, cukup lama, dan ternyaa nasib saya tak jauh berubah..


Ketika kau pergi, senja itu kembali
Meraung-raung meraih hati
Pudarkan ambisiku yang penuh curiga
Tidakkah kau merasakan
hangat yang kuberikan selama ini
Atau sama sekali memang kau tak pernah menganggapya
Menganggap aku ada

Semua menjadi tak seperti yang kuinginkan
Tak seperti yang kudambakan selama ini
Mengapa justru ia yang mengambil hati
Sementara aku jatuh tak berdaya
Jatuh pada palung penuh lara
Engkau bunga tanpa rupa
Dengan duri kau tusuk sukma

Ya.. yaaa.... semua telah musnah
Semua berhamburan bak debu di jagat raya
Yang semaunya menabrak dinding asmara
Satu persatu hilang dariku
Amarah, benci, luka, dan cinta semua tlah kau bawa
Membenam bersama para dewi-dewi
Selamanya tak kembali


Senin, 30 Mei 2011

Semestinya Begini Begitu

Kembali dengan semua ini sama seperti dahulu yang tiada bedanya. Angka 6 itu terus berulan-ulang dikeidupan, pikiran serta apa yang ada disekitaku. Aku, engkau, semua orang tak menyadarinya, apakah ini akan berakhir dengan begitu adanya ataukah dengan angka yang lain. Tak ada yang dapat bersama hingga waktu itu datang. Satu pergi, satu yang lain datang, datang dan hilang.
Perlu kalian semua ketahui bahwa seseorang yang selalu mengganggu pikiranku tidak lain adalah dia. Semua begitu menyebalkan ketika aku tak berkutik di dekatnya. Terjadi ketidak-singkronan antara saraf sensorik dan motorik penyusun tubuhku, serasa seperi orang yang lumpuh, namun digerakkan dengan orang lain yang tak becus mengurusi urusannya sendiri.
Sebenarnya ini bukan masalah yang cukup serius untuk dimengerti apalagi dipahami, hanya saja ada saja orang lain yang menghalangi jalan itu. Sesuatu yang mestinya dapat aku lakukan dengan sendiri dan tak perlu membuang-buang waktu, mereka dapat menggagalkannya. Entah apa yang ada dipikiran mereka, seolah tak ada yang dapat mereka lakukan selayaknya yang lain ketika mereka terus dan terus membuntuti pikiranku.
Semua memang layaknya terjadi, namun semestinya begini, bukan begitu...

Rabu, 29 September 2010

Pulang kampung

Hai,,
Aku kembali menjadi menjadi musuh-musuh kaum yang berbelok dari segala kebenaran, dari mereka yang mencoba membelokkan sejarah hingga kaum-kaum yang baru menganggapnya sebagai seuah sejarah yang baru. padahal semua itu jelas palsu. mungkin mereka memang sengaja menyingkirkan aku karena mereka tahu aku telah mengetahui rencana busuk yang mereka rencanakan terhadap kaumku. Bodohnya mereka dengan lancarnya melancarkan aksinya.